
Keheningan berat menyelimuti seluruh mansion setelah suara teriakan perwira tinggi polisi itu terdengar. Sang suami mundur ketakutan, tangannya gemetar, sementara ibu mertuanya tidak lagi berani menatap lurus ke depan. Sang istri muda keluar dari kamar mandi dalam keadaan basah kuyup, gemetar, dan berusaha menyembunyikan memar di lengannya. Saat ayahnya melihat keadaan putrinya, rahangnya mengeras, dan kemarahan di matanya berubah menjadi dingin serta menakutkan.
Ia segera berjalan cepat mendekati suami putrinya. Sebelum pria itu sempat bicara, sebuah tamparan keras menghantam wajahnya. Sang suami terhuyung, tubuhnya gemetar ketakutan. Ayah itu menunjuk ke arahnya dan berteriak, “Kamu menikahi anakku untuk menyiksanya? Kamu suami, tapi tidak tahu cara melindungi istrimu!”
Pria itu mundur, seluruh kesombongan di wajahnya lenyap. Amarah yang tadinya memenuhi matanya kini berubah menjadi rasa takut. Sang istri muda menangis, bukan hanya karena rasa sakit, tetapi karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ada seseorang yang berdiri membelanya. Dua polisi di belakang ayahnya tetap diam, tetapi kehadiran mereka cukup untuk membuat seluruh rumah membisu.
Tiba-tiba ibu mertua berbicara, berusaha mengembalikan keberaniannya yang sudah runtuh. “Pak besan, ini masalah keluarga kami,” katanya, meskipun suaranya bergetar. Sang ayah perlahan menoleh ke arahnya dengan wajah dingin. “Sampai sekarang Ibu masih bisa berkata begitu?” jawabnya. “Benar-benar tidak tahu malu.”
Ayah itu mengangkat tangan dan menunjuk ke arah kamera keamanan di sudut ruang tamu. Perintahnya kepada para polisi terdengar keras dan jelas. “Ambil rekaman kamera itu. Bawa mereka berdua ke kantor polisi untuk dimintai keterangan.” Saat itu juga, wajah ibu mertua semakin pucat. Ia berpegangan pada sisi meja, seolah seluruh dunia yang selama ini ia banggakan tiba-tiba runtuh.
Mendengar itu, sang suami tiba-tiba berlutut di depan istrinya. Ia memegang ujung pakaian istrinya sambil menangis. “Istriku, maafkan aku,” pintanya. “Aku hanya terbawa emosi.” Namun perempuan itu tidak mendekat. Ia hanya menatap pria itu dengan air mata mengalir, membawa luka dari semua malam ketika ia memaafkannya dalam diam.
Sang ayah memeluk putrinya dan menariknya ke dalam pelukannya. “Jangan takut, Nak,” katanya pelan namun tegas. “Ayah akan memperjuangkan keadilan untukmu. Dan kita akan menjadikan kasus ini sebagai contoh bagi semua keluarga agar kekerasan dalam rumah tangga harus dihentikan.” Di saat terakhir, perempuan itu menatap ayahnya, menangis tetapi akhirnya merasa aman, sementara suami dan ibu mertuanya yang dulu merasa berkuasa kini berdiri hancur dalam ketakutan.





